Startup Bakal Banjir Modal 2024, Cek Syarat Jika Mau Kebagian

Jakarta, CNBC Indonesia – Perusahaan modal ventura (VC) siap kembali mengguyur startup Asia Tenggara dengan modal pada 2024 setelah bersikap ekstra hati-hati sepanjang 2023. Namun, ada syarat khusus bagi startup yang ingin menerima suntikan dana dari para VC.

Laporan Google, Temasek, dan Bain & Company yang bertajuk e-Conomy Sea 2023 menggambarkan seretnya modal untuk startup teknologi sepanjang 2023.

Pada 2021, investasi ke startup RI memuncak. Nilai investasi saat itu mencapai US$ 9,1 miliar (Rp 144 triliun) dalam 649 kesepakatan pendanaan. Pada 2022 nilai investasi masih tinggi, yaitu US$ 5,1 miliar (Rp 80,9 triliun).

Sepanjang 6 bulan pertama tahun ini, modal yang masuk ke startup RI jeblok. Nilainya bahkan tak mencapai miliaran dolar, hanya sekitar US$ 400 juta (Rp 6,35 triliun) dalam 100 kesepakatan pendanaan. Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun sebelumnya, ada 302 kesepakatan dengan nilai total US$ 3,3 miliar (Rp 52,37 triliun).

Data serupa juga diungkap oleh KPMG. Pendanaan dari VC di wilayah Asia Pasifik anjlok ke US$ 20,3 miliar pada kuartal III/20223, paling rendah sejak awal 2017. Secara global, investasi oleh VC ada titik terendah sejak 2016.

Co-founder dan Managing Partner Monk’s Hill Ventures Peng T. Ong percaya dompet para investor bakal lebih gampang terbuka pada 2024. “Menurut saya, tahun depan, pengucuran dana di Asia Tenggara bakal lebih longgar,” katanya seperti dikutip oleh CNBC International.

Co-founder dan Managing Partner Antler di Asia, Jussi Salovaara, memperkirakan pendanaan VC untuk startup mulai meningkat pada semester II 2024.

“Kami percaya akan meningkat, terutama di paruh kedua. Benar ada syok akibat kenaikan suku bunga, anjloknya pendanaan ventura, yang membuat dana yang masuk dari investor ke dana kelolaan merosot dan pengelola dana makin pilih-pilih. Jadi butuh waktu untuk pulih,” katanya.

Sikap pilih-pilih investor juga dilaporkan oleh Google, Temasek and Bain & Company. Menurut laporan mereka, dana tunai yang dimilik investor untuk dikucurkan, yang dikenal sebagai “dry powder”, tahun lalu justru makin menumpuk. Dari US$ 12,4 miliar pada 2021 menjadi US$ 15,7 miliar pada 2022.

Investor kini memberikan syarat yang lebih ketat bagi startup penerima modal, yaitu para pendiri perusahaan rintisan harus memiliki rencana yang jelas dan bisa dicapai untuk mencetak profit.

But to attract funding in this current economic climate, tech companies need to show investors that they have clear and viable paths to profitability, the report added.

Sebelumnya, perusahaan rintisan dan para investor cenderung menempatkan potensi pertumbuhan di atas potensi mencetak laba pada beberapa tahun pertama sejak bisnis dimulai. Kondisi ini mendorong perilaku “bakar duit” di industri teknologi.

Kini, startup dan investor berhadapan dengan tantangan ekonomi global yang pertumbuhannya melambat. Mereka harus fokus mencapai profit dan makin hati-hati dalam mengeluarkan biaya.

“Kesempatannya ada untuk mencari pendiri dan perusahaan yang bisa melakukan optimalisasi apa yang bisa mereka kendalikan, misalnya biaya atau strategi pertumbuhan, kemudian menjadi efisien dalam mengucurkan modal untuk tumbuh,” kata Yinglan Tan, Managing Partner di Insignia Ventures Partners. https://buerinas.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*